Kamis, 29 Maret 2018

How to Asses HOTS in Your Chemistry Class

Penilaian  adalah  proses  pengumpulan  dan pengolahan informasi  untuk  mengukur pencapaian  hasil  belajar  peserta didik.  Pengumpulan  informasi  tersebut  ditempuh  melalui berbagai  teknik  penilaian,  menggunakan  berbagai instrumen,  dan  berasal  dari  berbagai sumber.
Penilaian harus  dilakukan  secara  efektif, sehingga, meskipun informasi  dikumpulkan sebanyak-banyaknya  dengan berbagai  upaya, akan tetapi  kumpulan  informasi  tersebut  tidak hanya  lengkap  dalam  memberikan  gambaran,  tetapi  juga harus akurat untuk menghasilkan keputusan.
Pengumpulan  informasi  pencapaian  hasil  belajar  peserta didik  memerlukan  metode  dan  instrumen  penilaian,  serta prosedur  analisis  sesuai  dengan  karakteristiknya  masing-masing. Kurikulum  2013  merupakan  kurikulum  berbasis kompetensi  dengan  Kompetensi Dasar (KD) sebagai  kompetensi  minimal  yang harus dicapai oleh peserta didik.
Di dalam mengetahui  ketercapaian  KD,  pendidik  harus  merumuskan  sejumlah indikator sebagai  acuan  penilaian.  Pendidik  atau  sekolah  juga  harus menentukan  kriteria  untuk memutuskan apakah seorang  peserta  didik  sudah mencapai KKM atau belum.
Penilaian  dalam Kurikulum 2013 (K13) tidak  hanya difokuskan  pada  hasil  belajar  tetapi  juga  pada  proses belajar.  Peserta  didik  dilibatkan  dalam  proses  penilaian  terhadap dirinya sendiri  dan  penilaian  antar  teman  sebagai  sarana  untuk  berlatih  melakukan penilaian.
Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013, yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan diharapkan juga mampu mengubah iklim pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan partisipatif, serta mampu merangsang merangsang kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa, bahkan sampai membuat siswa menghasilkan sebuah karya.
Penerapan beberapa model pembelajaran, seperti pembelajaran berbasis proyek  (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning),pembelajaran dengan pendekatan penyelesai masalah (problem solving) ,menemukan (discovery/inquiry) menjadi peluang bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran pada level HOTS (Higher Order Thinking Skill).
Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut pembelajaran untuk sampai pada tahap metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu memprediksi, mendesain, dan memperkirakan.
Sejalan dengan itu ranah dari HOTS, yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.
Kemampuan-kemampuan ini merupakan kemampuan berpikir level atas pada taksonomi Bloom yang terbaru hasil revisi oleh Anderson dan Krathwohl.
Di dalam prakteknya, penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Selain guru harus benar-benar menguasai materi dan strategi pembelajaran, guru pun dihadapkan pada tantangan dengan lingkungan dan intake peserta didik yang diajarnya.
Pada penilaian Kurikulum 2013, guru diharapkan mampu menyusun soal-soal HOTS agar peserta didik tidak hanya menjawab pada level C-1 (mengetahui), C-2 (memahami), dan C-3 (menerapkan), tetapi juga pada level C-4 (sintesis/ analisis), C-5 (evaluasi), dan C-6 (berkreasi).
Belajar berpikir kritis sebagai ciri dari HOTS tidak seperti belajar tentang materi secara langsung. Berpikir kritis adalah berkaitan dengan bagaimana memecahkan masalah yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Soal evaluasi saat ini cenderung lebih banyak digunakan menguji aspek ingatan. Ditambah lagi dengan banyaknya buku yang menyajikan materi dengan mengajak peserta didik belajar aktif, sajian konsep sangat sistematis, tetapi diakhiri soal evaluasi yang kurang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
Berpikir kritis memungkinkan peserta didik untuk menemukan kebenaran di tengah kejadian dan informasi yang mengelilingi mereka setiap hari. Melalui berpikir kritis peserta didik akan mengalami proses sistematis yang memungkinkan meraka untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri.



Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diterjemahkan dari Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kegiatan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi dari taksonomi berpikir Bloom.





Saat ini teori-teori yang berkembang tentang Higher Orde Thinking Skill lebih banyak difokuskan tentang bagaimana keterampilan ini dipelajari dan dikembangkan. Strategi pengajaran yang tepat serta lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi kemampuan berfikir siswa merupakan faktor yang penting untuk tercapainya pendekatan ini. Seperti halnya ketekunan siswa, pemantauan diri, dan berfikir terbuka serta sikap fleksibel.
Dalam berfikir tingkat tinggi, diperlukan kemampuan bernalar. Dimana kemampuan bernalar dan berfikir kritis ini saling berhubungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Krulik dan Rudnick (1995: 2), bahwa penalaran mencakup berpikir dasar (basic thinking), berpikir kritis (critical thinking), dan berpikir kreatif (creative thinking). Dua tingkat berfikir terakhir inilah (berfikir kritis  dan berfikir kreatif)  yang disebut sebagai keterampilan berfikir tingkat tinggi yang harus dikembangkan dalam pembelajaran matematika dan akan dibahas dalam tulisan ini.
            Beberapa konsep utama yang sesuai dengan pendekatan HOTS adalah mengikuti ketiga anggapan tentang berpikir dan belajar. Yaitu:
a.       Berpikir tidak bisa tidak dihubungkan dari tingkat, mereka saling tergantung satu sama lain
b.      Berfikir atau tidak berpikir dapat belajar tanpa isi pokok, hanya poin teoritis. Dalam kehidupan nyata, siswa akan mempelajari materi pelajaran berdasarkan pada pengalaman sekolahnya.
c.       HOTS meliputi berbagai cara berpikir, memproses, serta menerapkan pada situasi gabungan dan variabel kelipatan setelahnya.
Tingkat berpikir bergantung pada hubungan real-word situation (situasi dunia nyata) dengan variabel kelipatan penawaran ke tantangan berpikir memproses. Keberhasilan berfikir tingkat tinggi bergantung pada kemampuan individu dalam menerapkan, merombak,  dan memperindah pengetahuan dalam konteks situasi berpikir.
Pengajaran keterampilan berfikir dilandasi dua filosofi.  Pertama harus ada materi atau pelajaran khusus tentang berfikir.  Kedua, mengintegrasikan kegiatan berfikir ke dalam setiap pembelajaran matematika.  Dengan demikian, keterampilan berfikir terutama berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan dan menjadi bagian dari pelajaran matematika sehari-hari.  Dengan pendekatan ini, keterampilan berfikir dapat dikembangkan dengan cara membantu siswa menjadi problem solver yang lebih baik.  Untuk itu, guru harus menyediakan masalah (soal) yang memungkinkan siswa menggunakan keterampilan berfikir tingkat tingginya.
2.      Karakteristik HOTS
            Secara umum, keterampilan berfikir terdiri atas empat tingkat, yaitu:  menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999).
            Berfikir kritis adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah.  Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. Dengan kata lain, berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.
            Beberapa kemampuan yang dikaitkan dengan konsep berpikir kritis, adalah kemampuan-kemampuan untuk memahami masalah, menyeleksi informasi yang penting untuk menyelesaikan masalah, memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang relevan, serta menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari kesimpulan-kesimpulan (Dressel dan Mayhew) (Watson dan Glaser, 1980:1). Dari pendapat para ahli seperti telah diutarakan di atas, dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran.
            Bonnie dan Potts (2003) berpendapat bahwa terdapat beberapa kemampuan yang terpisah yang berkaitan dengan kemampuan yang menyeluruh untuk berpikir kritis, yaitu: menemukan analogi-analogi dan macam hubungan yang lain antara potongan-potongan informasi, menentukan kerelevanan dan kevalidan informasi yang dapat digunakan untuk pembentukan dan penyelesaian masalah, serta menemukan dan mengevaluasi penyelesaian atau cara-cara lain dalam menyelesaikan masalah. Meskipun semua pendapat di atas berbeda, namun pada hakekatnya memiliki kesamaan pada aspek mengumpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif.
            Dengan demikian agar para siswa tidak salah pada waktu membuat keputusan dalam kehidupannya, mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Menurut Ruber (Romlah, 2002: 9) dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi masalah serta kekurangannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Tapilouw (Romlah, 2002:9), bahwa “berpikir kritis merupakan berpikir disiplin yang dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah, terencana, mengikuti alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui”.
            Tingkatan yang terakhir adalah berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif.  Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks.  Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya.  Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam kimia
Berfikir Kritis dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah.  Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi.  Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan.  Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. 
Berfikir Kreatif kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif.  Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks.  Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya.  Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Pemecahan masalah dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah.  Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi.  Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan.  Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. 
Menyimpulkan konsep dalam kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif.  Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks.  Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya.  Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.

     Teknik Penulisan Butir HOTS dalam kimia
Ø  Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
Ø  Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
Ø  Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya dengan kimia.
Ø  Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk menjawab soal-soal HOTS.

Permasalahan :
Pada penilaian Kurikulum 2013, guru diharapkan mampu menyusun soal-soal HOTS agar peserta didik tidak hanya menjawab pada level C-1 (mengetahui), C-2 (memahami), dan C-3 (menerapkan), tetapi juga pada level C-4 (sintesis/ analisis), C-5 (evaluasi), dan C-6 (berkreasi).
Mengingat soal HOTS ini dianggap sulit oleh peserta didik, Bagaimana cara anda sebagai guru kimia agar soal HOTS yg anda buat mampu dijawab oleh peserta didik? Dan untuk soal HOTS dalam bentuk esai bagaimana skor penilaianya?

10 komentar:

  1. menurut saya yaitu dengan cara mengajarkan Ilmu pengetahuan yang terkait langsung dengan kehidupan di masyarakat.Dengan demikian peserta didik merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di dalam kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di masyarakat.Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan stimulus kontekstual dan menarik dalam Penilaian, sehingga munculnya soal-soal berbasis soal-soal HOTS, yang diharapkan dapat menambah motivasi belajar peserta didik.Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.
    Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Untuk melakukan penskoran, sebaiknya dapat menggunakan rubrik.

    BalasHapus
  2. menurut saya yang perlu dilakukan guru agar siswa mampu mejawab soal-soal HOTS adalah guru menyampaikan pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia yang ada dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari seperti dikaitkan dengan lingkunga,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan. Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Untuk melakukan penskoran, sebaiknya dapat menggunakan rubrik penilaian.

    BalasHapus
  3. Kurikulum yang berlaku diindonesia yaitu kurikulum 2013. Dimana K13 menuntut siswa memiliki pemikiran Level HOTS yaitu siswa dituntut sampai ke level C-4(sintesis/analisis), bahkan sampai level C-6. menurut saya yang perlu dilakukan guru agar siswa mampu mencapai pemikiran HOTS adalah guru menyampaikan pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia yang ada dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari seperti dikaitkan dengan lingkunga,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan.


    Pedoman penskoran untuk HOTS uraian yaitu menggunakan rubrik penilaian.

    BalasHapus
  4. penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Selain guru harus benar-benar menguasai materi dan strategi pembelajaran, guru pun dihadapkan pada tantangan dengan lingkungan dan intake peserta didik yang diajarnya. agar siswa mampu mejawab soal-soal HOTS adalah guru menyampaikan pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia yang ada dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari seperti dikaitkan dengan lingkunga,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Untuk melakukan penskoran, sebaiknya dapat menggunakan rubrik penilaian.

    BalasHapus
  5. Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS
    1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
    2. Menyusun kisi-kisi soal
    3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
    4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
    5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

    penilaiannya sama dengan menggunakan rubik penilaian esay

    BalasHapus
  6. agar soal hots dapat dijawab yaitu dengan memberikan contoh latihan pada pembelajaran, karena siswa akan terbiasa tentu akan mudah menyelesaikan soal. selain itu soal hendaknya berkaitan dengan apa yang dipelajari, tentunya disesuaikan dengan silabus. kemudian cari contoh soal yang dekat dengan kehidupan siswa.

    BalasHapus
  7. menurut saya yang perlu dilakukan guru agar siswa mampu mejawab soal-soal HOTS adalah guru menyampaikan pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia yang ada dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari seperti dikaitkan dengan lingkungan,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan.

    Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Untuk melakukan penskoran, sebaiknya dapat menggunakan rubrik penilaian.

    BalasHapus
  8. Menurut saya, agar soal HOTS yg dibuat mampu dijawab oleh peserta didik, maka yang dibutuhkan oleh pendidik ialah penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas dalam memilih stimulus soal sesuai dengan fenomena yang ada disekitarnya (kontekstual). Selain itu, agar siswa dapat dengan mudah menjawab, pendidik juga perlu memperhatikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami, proporsional dan sistematis untuk mengukur Indikator Ketercapaian Kompetensi (IKK) secara efektif serta memiliki kedalaman sehingga mampu mengarahkan pola pikir siswa menjawab pertanyaannya.

    untuk bentuk soal HOTS dalam bentuk esai, skor penilaianya dapat dilakukan sesuai dengan rubrik penilaian yang jelas contohnya jika benar & jawaban lengkap point 1 soalnya 5, jika benar tetapi kurang lengkap pointnya 3, jika salah 0.

    BalasHapus
  9. Menurut saya dallam membelajarkan materi yang akan diajarkan guru harus mampu merancang pembelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran (materi kimia) dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia dapat dikaitkan dikaitkan dengan lingkunga,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan.Selain itu siswa harus terbiasa dengan soal-soal yang berbasis HOTS.Dengan pembelajaran seperti itu, dan seiring berjalannya waktu makan siswa akan dapat menyelesaikan soal-soal HOTS yang diberikan.

    BalasHapus
  10. menurut saya guru mengajara kanan materi pelajaran yang terkait langsung dengan kehidupan di masyarakat.Dengan demikian siswa didik merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di dalam kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di masyarakat.Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan stimulus kontekstual dan menarik dalam Penilaian, sehingga munculnya soal-soal berbasis soal-soal HOTS, yang diharapkan dapat menambah motivasi belajar peserta didik.Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.
    Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Untuk melakukan penskoran, sebaiknya dapat menggunakan rubrik.

    BalasHapus